Pages

Monday, March 26, 2018

penantian dan perjuangan yang terbayar kebahagiaan

ini cerita tentang persalinan anak pertama kami, khawla naafilah sandi, yang diharapkan menjadi anugerah di keluarga sandi yang sholehah, cerdas, menyenangkan dipandang, pembela kebenaran, dan enerjik seperti khawla binti al azwar, sahabat Rasulullah. anak pertama kami lahir pada hari senin, 12 maret 2018 pukul 5 pagi, setelah perjuangan yang cukup melelahkan.

anak pertama kami diperkirakan lahir pada 5 maret 2018. kami telah bersiap-siap jauh-jauh hari karena biasanya maju. namun sampai tanggal 5, belum ada tanda-tanda saya akan melahirkan, begitu juga 3 hari kemudian, yaitu tanggal 8. saya semakin galau. kemudian oleh bidan tempat saya biasa kontrol, saya dirujuk ke dokter karena hpl sudah terlambat. awalnya saya memang berencana melahirkan di klinik saja dengan bidan karena saya tidak ingin diinduksi. tapi apa boleh dikata, ketika beberapa hari kemudian saya ngeflek, saya ditolak oleh klinik tersebut karena sudah lewat hpl, mereka tidak berani, dan harus dengan dokter.

kemudian saya mencari beberapa info rs yang ada dokter spog wanitanya, dan diputuskan saya periksa di salah satu rumah sakit swasta di kotagede. ketika periksa dengan dokter tersebut, saya disarankan untuk melakukan tes detak jantung bayi selama 2x20 menit. kemudian jika hingga hpl+7 belum ada tanda-tanda akan melahirkan, beliau meyarankan saya untuk induksi. nah sampai sini saya semakin galau. tentu saja karena banyak cerita yang menyatakan jika rasa sakit induksi berlipat kali rasa sakit melahirkan alami. 

jumat, 9 maret 2018 pagi saya menambah waktu jalan kaki saya, hingga benar-benar merasa sangat lelah. selian itu saya juga merangkak di dalam rumah. kemudian jumat siang saya mulai merasa perut saya agak sakit ketika kontraksi, dan saya menganggapnya hanya masuk angin. kemudian malamnya, karena sakit tersebut semakin terasa, saya hampir tidak bisa tidur sama sekali. kala itu kontraksi saya masih antara 15-20 menit sekali. sabtu pagi, saya ngeflek, namun masih berwarna coklat. siangnya, saya periksa ke puskesmas dan ternyata belum ada bukaan sama sekali. saya semakin galau, tapi banyak orang-orang di sekitar saya yang menyemangati, sehingga saya merasa beban saya jauh lebih ringan.

ahad pagi, saya kembali ngeflek, dan kontraksi semakin sering, yaitu 5 menit sekali. kemudian, pukul 10.00 suami saya mengantar saya ke rs. di rs saya diperiksa, dan ternyata bukaan saya bahkan belum 1, baru seujung jari. kegalauan kembali melanda. walaupun belum bukaan 1, akan tetapi saya langsung diminta untuk opnam. 

4 jam kemudian, yaitu pukul 14.00, saya di vt lagi dan ternyata bukaan 1. jam 18.00 (4 jam kemudian) saya kembali di vt dan ternyata masih bukaan 1. oleh dokter saya disarankan untuk diinduksi. awalnya saya menolak, namun pilihan lainnya adalah operasi, sehingga akhirnya saya menawar untuk menunggu beberapa jam lagi, sembari berharap bukaan saya bertambah. pukul 20.00 saya kembali di vt, dan ternyata masih bukaan 1. hwaaa.. akhirnya mau tidak mau saya setuju untuk diinduksi, setelah beberapa jam dilakukan tes detak jantung bayi. pukul 23.00 infus saya diganti infus induksi. 

setelah infus diganti induksi, saya merasa sakit yang lebih hebat, dan rentangnya semakin pendek. saya hanya bisa merintih sambil menyebut nama Allah. 3 jam kemudian, yaitu pukul 02.00, saya di vt lagi dan ternyata bukaan saya baru 2. saya hampir putus asa. kekhawatiran tentang gagalnya induksi melanda saya. namun suami dan ibuk yang kala itu menemani, menguatkan saya. yakinlah tentang pertolongan Allah, kalimat yang selalu mereka katakan kepada saya.

pukul 03.00, saya merasa ingin mengejan, dan saya kembali di vt, alhamdulillah bukaan saya sudah 6. walaupun begitu, karena rasa sakit yang luar biasa hebat, saya lagi-lagi hampir menyerah. akan tetapi saya berusaha untuk kuat. di sela-sela menahan sakit yang hebat itu, saya melihat suami saya meneteskan air mata dan ibuk saya menunjukkan wajah sangat paniknya. pukul 04.00, saya di vt lagi dan alhamdulillah bukaan saya sudah 8 (bidan mengatakan bahwa saya bukaan 9, untuk memberi saya semangat). walaupun begitu, beberapa saat kemudian saya kembali mengeluh dalam rintihan saya karena sangat beratnya menahan mengejan. tak lama kemudian, ketuban saya pecah. kemudian, tepat ketika adzan subuh, sekitar pukul 04.30, bertepatan juga dengan datangnya bu dokter, bukaan saya lengkap. rasanya begitu lega ketika melihat dokter sudah duduk di depan saya dan saya diijinkan mengejan.

setelah 3 kali kontraksi, tepat pukul 05.00, suara tangisan khawla terdengar dari ruang bersalin. ibuk saya yang menunggu di luar seketika sujud syukur. saya yang sebelumnya merasa sangat lelah dan mengantuk, justru langsung merasa sehat setelah mendengar tangisan khawla. semua penantian  dan perjuangan terbayar sudah, alhamdulillah :)

malam yang sangat panjang..

saran saya untuk ibu-ibu hamil (belajar dari pengalaman saya), banyaklah jalan-jalan secara rutin, bukan hanya di hari-hari mendekati kelahiran, namun setidaknya ketika masuk ke trimester ke3. semakin dekat ke persalinan, tambahlah jaraknya. selain itu, konsumsi kurma secara rutin, dengan jumlah minimal 6 sehari. saya juga konsumsi kurma, namun menurut saya kurang banyak, sehingga kurang berdampak pada kelahiran, kecuali pada ketuban yang pecah pada waktunya.

No comments:

Post a Comment